Bangkit dari kegagalan ta’aruf – Memang tidak mudah ketika apa yang diharapkan untuk ke pelaminan dari proses ta’aruf harus berhenti di tengah jalan. Hal ini bukan karena kamu kurang cukup melainkan kamu pantas mendapatkan yang lebih baik menurut-Nya.
Manusia terbatas akan ilmu dan pandangan terutama perihal kebutuhan dunia dan akhirat. Boleh jadi apa yang diinginkan belum tentu apa yang dibutuhkan. Apa yang baik menurut pandangan manusia belum tentu terbaik menurut pandangan-Nya. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik perencana kehidupan.
Pada artikel sebelumnya, membahas tentang bagaimana menyembuhkan luka akibat gagal ta’aruf. Pada artikel ini kita akan bahas tentang bagaimana cara bangkit kembali dari kekecewaan akibat gagal ta’aruf.
Hidup bukan hanya tentang nikah saja
Menikah adalah sunnah Nabi, tapi bukan satu-satunya jalan menuju surga. Jangan ukur nilai hidupmu hanya dari status relasi saja. Karena Allah menciptakan hidup ini dengan banyak bentuk kebaikan dan kontribusi.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpinakan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hidupmu sangat berharga maka sangat sia-siakan hidup ini tanpa makna bahkan ketika kamu belum menikah. Kamu bisa jadi pemimpin untuk dirimu sendiri, menjadi anak yang taat kepada orang tua, teman yang menguatkan, guru yang menginspirasi, bahkan penulis yang menyebar cahaya dalam kalimat.
Cari kegiatan produktif sembari menunggu
Untukmu yang saat ini ada dalam fase menunggu mulai gunakan waktumu untuk sesuatu yang berharga dan bermakna. Penantian yang pasif hanya memperpanjang rasa sesak. Namun penantian yang aktif bisa mengubah luka menjadi sebuah karya.
Lihatlah kisah Maryam, beliau adalah wanita suci yang dalam masa kesendiriannya tetap mengabdi dengan keteguhan imannya yang penuh. Diuji dengan hal yang tidak pernah ia minta tapi tetap Allah muliakan kedudukannya.
Menunggu bukan alasan untuk diam. gunakan waktumu untuk memperkaya diri dengan belajar keterampilan baru, perbanyak bacaan Qur’an, bangun personal projectmu, ikut kelas dan berbagi ilmu yang kamu punya. Karena ketika jodohmu dating, dia akan bersyukur dipertemukan dengan seseorang yang tidak hanya menunggu tapi juga bertumbuh.
Syaikh Ali Tantawi mengatakan bahwa “jangan tunggu peran untuk berkarya. Tapi berkaryalah, maka peranmu akan dating dengan sendiri.”
Memperbaiki diri tanpa membenci masa lalu
Terkadang tanpa disadari kita terlalu keras dengan diri sendiri. Merasa diri ini tidak layak hingga rendah diri. Padahal Allah adalah Maha pencipta yang sempurna dan Maha penerima taubat.
“Katakanlah, wahai hamba-Ku yang melampaui batas atas diri mereka, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar:53)
Kalau Allah saja masih membuka pintu ampunan, kenapa kamu masih menutup pintu maaf untuk dirimu sendiri? Proses menjadi lebih baik tidak harus diawali dengan membenci masa lalu. Biarkan ia tetap menjadi bagian dari kisahmu sebagai pengingat bukan penghakiman. Maka maafkan dirimu, rawatlah lukamu lalu, lanjutkan hidup dengan hati yang lapang dan jiwa yang tenang dan buatlah karyamu.
Syeikh Ibnu Athaillah mengatakan : “Jangan karena dosa masa lalu, membuatmu berputus asa dari kebaikan yang kini kamu lakukan. Bisa jadi itu menjadi sebab terbesar kamu mendekat kepada-Nya.”
Menyambut jodohmu dengan versi terbaik diri
Kamu tidak bisa mengatur kapan pertemuan itu terjadi. Namun kamu bisa mengatur siapa yang sedang menunggu di balik pintu itu. Jika dibalik pintu itu adalah seseorang yang baik iman dan akhlaknya maka perbaiki iman dan akhlakmu juga supaya pantas menjadi apa yang dibalik pintu itu.
“Perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).” (QS. An-Nur: 26)
Jodoh bukan hadiah untuk orang sempurna. Tapi rahmat untuk mereka yang bersungguh-sungguh memperbaiki. Bertumbuh bukan hanya untuk dipilih, tapi agar kamu juga bisa memilih dengan penuh cinta dan kematangan.
Hidup bukan hanya tentang menikah saja. Namun tentang menjadi seseorang yang pantas bukan hanya dicintai melainkan untuk mencintai dengan benar. Gagal ta’aruf adalah wajar namun yang tidak wajar adalah berlarut dalam keterpurukan dan memilih untuk berhenti bangkit. Barakallah fiikum, semoga artikel ini bermanfaat.
Referensi : e-book “Saat jodoh tak kunjung tiba” by Ustadz Rizal Wahid