Dengan siapa aku menyempurnakan separuh agamaku ini? – Setiap orang pasti menginginkan pernikahan yang bahagia dan harmonis. Tidak hanya bahagia di dunia saja namun pernikahan yang barokah adalah dambaan banyak orang. Terlebih lagi pernikahan tersebut menuntun ke surga Allah ta’ala.
Menikah merupakan tanda seseorang telah berkomitmen untuk bersama menyempurnakan separuh agama selamanya. Namun, dalam proses perjalanan menemukan pasangan yang sefrekuensi berkomitmen bersama dunia dan akhirat tentu tidaklah mudah. Pada akhirnya semua pencarian akan berujung pada satu hal : ketenangan dalam menerima takdir-Nya.
Sebab bukan siapa yang paling awal hadir, atau siapa yang paling lama menetap yang akan membersamai sampai akhir. Tetapi ini tentang siapa yang dituliskan dalam Lauhul Mahfuzh sebagai pelengkap separuh agamamu. Allah ta’ala tidak pernah keliru dalam mempertemukan, karena Dia tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Jika bukan sekarang, mungkin nanti. Jika bukan dia yang diharapkan, maka pasti ada yang lebih baik menurut-Nya.
Ingat yang datang bukan hanya sebagai pelengkap hidup saja atau hanya mengisi kekosongan semata. Melainkan untuk menjadi teman dalam perjuangan menuju surga Allah ta’ala. Maka bagi kamu yang saat masih sendiri, bersabarlah dalam penjagaan dan bertahanlah dalam keimanan. Jangan pula gundah oleh waktu yang tampaknya lambat, karena takdir-Nya tidak pernah salah.
Engkau yang meminta dalam doa, bila memang ditulis-Nya untukmu, akan datang bukan hanya sekedar membawa raga saja. Tetapi juga membawa ruh yang mengerti makna setia, ruh yang bisa menuntunmu ke surga Allah ta’ala. Karena cinta yang dipelihara dalam sujud tidak akan pernah sia-sia dan kesetiaan tidak akan pernah lekang oleh ujian.
Sebab yang terbaik tidak hadir dengan tergesa-gesa. Tetapi lahir dari kesabaran dan keyakinan bahwa Allah ta’ala tidak pernah keliru dalam memilihkan untukmu. Diujung penantian, pengharapan, dan sabar kamu memintanya untuk menyempurnakan separuh agama bersamamu.
Hingga tiba waktunya, akan ada pertemuan yang tidak lagi dijelaskan. Sebab, ia telah tertulis sejak semula, dengan nama yang telah Allah ta’ala siapkan mendampingimu dalam waktu yang paling indah.
Referensi : Buku “Telah Usai” karya Karim Yusuf