3 Metode Menjawab Pertanyaan Anak Usia Dini

3 metode menjawab pertanyaan anak usia dini– Seiring berjalannya waktu, pendidikan anak usia dini ibarat membangun fondasi sebuah bangunan. Perkembangan otak anak usia dini ditunjukkan berupa pertanyaan yang dilontarkan anak tentang apapun dan kapanpun, sehingga terkadang orang tua kesulitan menjawab.

Namun dari ratusan pertanyaan yang terdengar aneh, percayalah anak sangat membutuhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan anak untuk bisa tumbuh berpikir kritis, salah satunya dengan menjawab pertanyaan anak dengan tepat, jujur dan logis.

Berikut adalah 3 metode yang dapat diterapkan dalam menjawab pertanyaan anak usia dini :

Metode Analog

Metode pertama dalam menjawab pertanyaan anak usia dini adalah metode analog. Metode analog adalah pemahaman konsep dengan cara menentukan kesamaan suatu fenomena dengan fenomena lainnya, sehingga bisa diambil kesimpulan sebagai pemecahan masalah yang dihadapi. Sebagai contoh pertanyaan anak yang dijawab dengan metode analog :

“Ayah, Allah itu kok tidak bisa kita lihat? Ada atau tidak ada sih Allah itu?”

Tanggapan ayah atas pertanyaan anak dengan metode analog adalah dengan mengajak anak ke halaman rumah. Kemudian mintalah anak untuk memperhatikan di sekelilingnya misal ada daun, pohon dan sebagainya :

“Apakah kamu lihat daun-daun yang bergerak itu?”

“Ya, aku lihat” (mungkin begitu jawaban sang anak)

“Menurut kamu, apa yang menggerakkan daun itu?”

“Aku tahu, angin yang menggerakkan daun itu.”

“Kamu bisa melihat bentuk angin itu?”

“Engga… gak lihat”

“Tapi kamu percaya angin itu ada, meskipun kamu tidak lihat?”

Respon selanjutnya sang anak mungkin akan mengangguk.

“Nah, Allah itu ada, tetapi mata kita tidak mampu melihat Allah, seperti mata kita tidak bisa melihat angin”

Dengan metode analog, anak diharapkan mendapatkan tambahan pengetahuan yang akan menjadi pengetahuan awal dalam pikirannya. Hingga akhirnya sang anak dapat sebuah simpulan sederhana melalui apa yang ia perhatikan.

Metode Sebab-Akibat

Metode kedua dalam menjawab pertanyaan anak usia dini adalah metode sebab-akibat. Metode sebab-akibat adalah cara praktis untuk mengenalkan alasan asal-usul suatu fenomena. Contoh pertanyaannya adalah sebagai berikut :

“Benarkan Allah menciptakan alam semesta?”

Dengan metode sebab-akibat, orang tua menjawab pertanyaan tersebut dengan memperlihatkan sebuah kue. Lalu mengajukan pertanyaan berikut :

“Ini apa, sayang?”

“Kue, mama” apakah kue ini ada yang membuatnya?”

“Ya ada, mama yang membuatnya.”

“Kursi yang bagus di taman ini, apa ada yang membuatnya.”

“Ada mama, tukang kursi yang membuatnya.”

“Berarti, segala sesuatu yang ada di dunia ternyata ada yang membuatnya ya, ya?’

Biasanya, anak akan mengangguk-angguk senang mendengar penjelasan tersebut.

“Lalu siapa yang membuat lautan, gunung, tumbuhan, pepohonan, dan bermacam-macam ikan yang hidup di Bumi ini?”

Biasanya respon anak adalah langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Oleh karena, kita yakin segala sesuatu ada yang membuatnya, semua yang mama tanyakan tadi tentu ada yang membuatnya juga yaitu Allah SWT Tuhan pencipta alam.”

Sang anak akhirnya sampai pada pemahaman secara sederhana bahwa Allah SWT sang pencipta alam semesta.

Metode Jawaban Global

Metode ketiga dalam menjawab pertanyaan anak usia dini adalah metode jawaban global. Metode jawaban global adalah menjawab pertanyaan anak dengan jawaban secara global. Tujuannya supaya anak tidak mengetahui fenomena yang ditanyakan secara detail karena kemungkinannya akann sulit untuk dimengerti anak. Dengan jawaban global, anak akan cepat memahami.

Kelak seiring perkembangan usia anak, jawaban global ini akan jadi pemantik sehingga anak mencari jawaban yang lebih detail. Contoh pertanyaan yang sering muncul :

“Mama, adik keluar dari mana?”

Sebagai orang tua mungkin kesulitan jika harus menjelaskan secara detail tentang proses melahirkan bahkan proses pembentukan bayi. Jadi cukup berikan jawaban sederhana secara global “

“Adikmu ini keluar dari perut mama”

Jawaban tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu anak usia dini. Tentunya, kita tahu proses sampai bayi dilahirkan melalui perut ibu baik operasi normal/tidak normal. Namun pengetahuan tersebut akan diketahui anak seiring perkembangan usianya.

Referensi : Buku Munif ChatibOrangtuanya Manusia”, halaman 36-38

Leave a Comment