Problematika dalam rumah tangga – Seringkali kita sebagai manusia khawatir dengan masa depan. Padahal ranahnya masa depan itu milik Allah yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha yang terbaik dan maksimal dalam berdoa.
Sekalipun kita sudah menyiapkan diri dengan ilmu pernikahan, mencari pasangan yang baik, nyatanya problematika dalam rumah tangga pasti akan terjadi.
Sebab semakin tinggi intensitas dalam berinteraksi antara dua orang (atau lebih), semakin besar pula kemungkinan adanya “gesekan” konflik diantara keduanya. Padahal, problematika dalam rumah tangga tidak selalu berdampak buruk.
Adanya problematika bisa membuat kita menyadari bahwa ada hal yang belum seimbang untuk dijalani. Hal ini, bisa kita sadari dan pelajari sebelum menikah agar bisa dihindari. Adapun sumber penyebab problematika dalam rumah tangga yang mungkin bisa terjadi adalah sebagai berikut :
1) Ketidaksiapan diri
Mempersiapkan diri sebelum menikah sangatlah penting sebelum kita memulai berumah tangga. Karena jika pondasi diri tidak siap, tentu kita akan sulit menghadapi problematika rumah tangga dan tidak maksimal dalam menjalankan peran sebagai pasangan maupun orang tua.
Ketidaksiapan yang dimaksud dapat berupa ketidaksiapan untuk menjadi seorang istri yang taat pada suami, ketidaksiapan untuk menjadi seorang suami yang bertanggungjawab dalam menafkahi dan membimbing keluarganya, ketidaksiapan untuk mengurus anak, ketidaksiapan untuk berbagi, dan ketidaksiapan untuk menghadapi mertua dna ipar, dan masih banyak lagi.
Diawal masa pernikahan, kesiapan kita menikah tentunya akan diuji dengan pasangan karena perlunya melakukan adaptasi. Adaptasi akan terasa berat karena kita sedang mencoba mengenali pasangan dan menyesuaikan diri akan kehadiran pasangan dalam hidup kita. Maka dibutuhkan kesabaran yang ekstra karena waktu yang dibutuhkan tidaklah sebentar.
2) Finansial
Permasalahan finansial seringkali menjadi penyebab problematika dalam rumah tangga yang berujung pada perceraian. Banyak yang berekspektasi bahwa setelah menikah maka keuangan akan stabil, punya tempat tinggal, dan uang yang banyak.
Nyatanya tidak semua yang kita ekspektasikan sejalan dengan kenyataan. Ketidakterbukaan finansial sejak sebelum menikah serta prinsip yang berbeda dapat pula menjadi pemicu rumah tangga. Belum lagi tuntutan kebutuhan hidup dengan keinginan yang terkadang tidak sejalan.
Padahal pernikahan tidak melulu soal uang dan harta, berapapun uang yang kita punya, jika tidak diiringi dengan qonaah (rasa cukup) dan manajemen keuangan yang baik, maka kita akan selalu merasa kurang.
3) Tidak komitmen dan tidak puas
Permasalahan ini akan muncul cepat atau lambat saat suami dan istri tidak siap untuk berkomitmen untuk menikah dengan tujuan yang sama. Sehingga setelah menikah mudah sekali tergoda dengan laki-laki atau perempuan yang lebih baik dari pasangannya. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan rumah tangganya.
Hal ini dapat dipicu oleh ketidakpuasan kebutuhan psikologis dan biologis sehingga mencari orang lain yang sekiranya dapat memenuhi ekspektasinya, lalu terjadilah perselingkuhan. Nauudzubilah himindalik. Itulah pentingnya dukungan antar pasangan agar rumah tangga bisa berjalan harmonis dan terhidar dari problematika rumah tangga.
4) Perbedaan Karakter
Perempuan dan laki-laki secara fitrah memiliki perbedaan karakter serta pola pikir. Perbedaan itu juga dipicu oleh pola asuh dan latar belakang lingkungan yang berbeda. Semua perbedaan itu membuat pasangan suami-istri memiliki perbedaan kebiasaan, sikap, dan cara pandang yang berbeda.
Jika suami dan istri tidak mau saling belajar memahami satu sama lain serta tidak mau berkompromi dengan perbedaan tersebut, maka hal itu dapat memicu terjadinya problematika dalam rumah tangga.
5) Keluarga
Permasalahan lainnya juga dapat timbul dari keluarga seperti orang tua, saudara ipar, serta keluarga besar. Bibit problematika dalam rumah tangga bisa tumbuh jika sejak awal menikah orang tua tidak meridhoi pernikahan tersebut.
Itulah mengapa penting untuk meminta restu kedua orang tua dan mengkomunikasikan setiap harapan baik dari diri sendiri maupun orang tua terkait calon pasangan dan pernikahan yang akan dijalani nantinya.
Selain itu ketegasan dan kemandirian dalam bersikap pasca menikah dapat membantu rumah tangga terhindar dari campur tangan keluarga. Perlunya menjaga batasan tentang privasi rumah tangga dengan orang tua, ipar dan keluarga besar laiunnya.
Untuk menghindari problematika rumah tangga, maka kita harus punya keterampilan dalam berkomunikasi dan problem solving yang baik. Komunikasi yang lancar dapat memudahkan kita maupun pasangan dalam memahami keinginan satu sama lain.
Selain itu pentingnya berprasangka baik dan sikap qonaah (saling menerima) kepada pasangan dapat menghidari kita dari adanya problematika rumah tangga. Semoga kelak rumah tangga kita bisa menjadi keluarga yang harmonis dan terhindar dari problematika rumah tangga. Aamiin.
Referensi : Buku #PreMarriageTalk “Karena Menikah Butuh Persiapan” by Nida Muthi Athifa & Saraf Fauziyyah Bahri