Merasa cukup dengan pasangan – Pernikahan merupakan jalan halal yang menyatukan dua insan menuju keridhoan Allah SWT. Dalam islam, jika membahas hubungan biologis bukan merupakan hal yang rendah atau tabu, melainkan bagian dari ibadah rumah tangga. Allah SWT menitipkan syahwat bukan untuk disalurkan dengan sembarangan, melainkan untuk dijaga melalui pernikahan.
Dalam pernikahan, rasa cukup dibangun ketika suami istri menyadari bahwa yang mereka jalani bukan sekedar aktivitas fisik, melainkan amanah yang mendekatkan kepada Allah SWT dan pasangan. Cukup bukan berarti tidak ada keinginan, tapi tidak mencari pelampiasan di luar yang halal. Itulah sebabnya rasa cukup dalam pernikahan penting dibangun untuk menjaga keutuhan rumah tangga.
Dengan bersikap qona’ah (merasa cukup) artinya menerima pasangan sebagai satu-satunya tempat halal, tanpa membandingkan, dan tanpa membuka pintu maksiat dari kurang yang dibiarkan tumbuh.
1) Jaga pandangan, jaga rasa
Apa yangs sering kita lihat akan menetap di pikiran. Konten erotis, candaan yang menjurus, kisah orang lain yang diumbar tanpa batas, dan perlahan membentuk standar palsu. Akibat sering melihat konten palsu akan berdampak pada rasa cukup kita ke pasangan sehingga selalu merasa kurang. Padahal islam menekankan penjagaan pandangan karena mata adalah pintu hati, dan hati yang tidak dijaga akan sulit merasa cukup.
2) Hubungan biologis adalah ibadah
Sebelum menikah maka luruskan niat agar yang diniatkan menjadi ibadah, Allah SWT jaga kenikmatannya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa hubungan suami istri bernilai pahala. Ini menunjukkan bahwa islam memuliakan relasi intim yang halal. Ketika hubungan biologis dijalani dengan doa, kelembutan dan kasih sayang, ia tidak hanya memuaskan jasad tetapi juga menenangkan jiwa dan menguatkan ikatan ruhani suami dan istri.
3) Rasa cukup lahir dari keamanan emosional
Pernah ga kita merasa nyaman dan bahagia saat hati merasa aman? Nah, inilah hormon yang ada pada setiap manusia, perempuan akan merasa aman jika kasih sayang dan perlindungan dari suami terpenuhi. Dan suami akan merasa aman jika istri menghargai usahanya dan melayaninya dengan setulus hati.
Jika keduanya di bangun dengan rasa saling menerima dan saling percaya maka hubungan akan terjaga. Selain itu, hubungan biologis yang dilakukan tanpa adanya unsur paksaan, rasa takut maka tidak akan terasa hambar. Hubungan intim menjadi ruang kedekatan secara emosional bukan sekedar kewajiban suami-istri saja.
4) Hubungan intim bukan sebagai panggung pembuktian
Sosial media saat ini sering sekali menampilkan hubungan biologis sebagai ajang performa dan variasi tanpa batas hingga berujung pada jurang kemaksiatan. Jika standar ini dibawa ke pernikahan, pasangan kan lelah dan merasa gagal. Bahkan adanya standar media mengenai hubungan intim suami istri akan berhasil jika melahirkan keturunan. Padahal islam memandang hubungan intim suami istri sebagai sebuah kerja sama dua insan yang di jalani dengan penuh empati bukan tuntutan sepihak bahkan ajang perlombaan semata.
5) Syukur mengubah fokus dari kekurangan menjadi karunia
Hal yang perlu kita tanamkan sebelum menikah adalah pasangan yang menjadi suami atau istri kita bukanlah pasangan yang sempurna. Dalam pernikahan ada banyak nikmat yang Allah SWT karuniakan kepada pasangan suami istri untuk saling belajar dan bersyukur. Merasa cukup karena Allah SWT kirimkan seseorang yang mau menerima kekurangan dan kelebihan kita, merasa cukup karena bersamanya bisa semakin dekat pada perintah Allah SWT dan sebagainya. Pasangan kita mungkin tidak sempurna, tapi ada banyak nikmat yang sering terlewatkan; seperti kesetiaan,usaha, doa dan kehadirannya melengkapi hidup kita.