Doa yang Dijawab Dengan Tepat

Doa yang dijawab dengan tepat – Kita pernah ngerasa lelah saat semua doa yang kita panjatkan tidak kunjung terkabul. Semua impian yang kita harapkan seakan jauh dan sulit sekali untuk diraih. Seiring berjalannya waktu, doa yang sebelumnya kita panjatkan sama Allah rinci sekali, kini doa kita menjadi singkat dan “main aman”.

Pernah ga? kita berdoa kaya gini “Ya Allah berikan yang terbaik untukku” tanpa menyebut apa yang benar-benar kita inginkan. Atau kaya gini, “Terserah Allah aja, aku percaya pada rencana-Mu”. Akupun pernah berdoa seperti ini, ketika diri ini futur dan mulai berprasangka buruk sama ketetapan-Nya.

Seringkali kita membatasi doa dan bermain aman karena takut pada rasa sakit hati kita sendiri. Kita percaya sama Allah, tapi diwaktu bersamaan juga ragu dengan doa yang kita panjatkan selama ini akan dikabulkan. Salah satu ayat Al-Qur’an yang bisa kita pelajari saat kita berdoa berikut ini :

وَاِنِّىۡ خِفۡتُ الۡمَوَالِىَ مِنۡ وَّرَآءِىۡ وَكَانَتِ امۡرَاَتِىۡ عَاقِرًا فَهَبۡ لِىۡ مِنۡ لَّدُنۡكَ وَلِيًّا ۙ‏ ٥
“Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.”(QS.Maryam:5)

يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“(Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai.”(QS.Maryam:6)

Dari ayat tersebut, mengisahkan Nabi Zakaria yang tidak pernah putus berdoa dan berharap kepada Allah. Nabi Zakaria meminta sangat detail dengan keyakinan kepada Allah kalau doanya akan dikabulkan.

Ia meminta seorang putra, seorang pewaris yang bisa memenuhi tugasnya dalam dakwah. Ia meminta seorang penerus, karena ia cemat jika meninggalkan umatnya dalam keadaan belum sepernuhnya teratur dan tertata. Bukan sekedar meminta anak, tapi beliau meminta seorang pemimpin masa depan.

Doa itu dijawab oleh Allah, dengan kelahiran Yahya. Seorang anak yang kemudian meneruskan perjalanan dakwah Nabi Zakaria, meneruskan jejak kenabian beliau dan menjadi penerang bagi umatnya saat itu.

يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ࣙاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا ۝٧

(Allah berfirman,) “Wahai Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya yang nama itu tidak pernah Kami berikan sebelumnya.”  (QS.Maryam:7)

Banyak orang yang pasrah dengan doanya karena merasa banyak dosa hingga mulai ragu akan takdir Allah. Merasa dirinya terlalu kecil dan doanya terlalu besar untuk jadi kenyataan hingga berpikir mustahil doanya akan terwujud.

Tapi dari kisah Nabi Zakaria mengajarkan kita bahwa tidak ada yang terlalu besar untuk dikabulkan oleh Allah. Bahkan permintaan seorang putra dari seorang istri yang mandul saja beliau percaya akan tetap dikabulkan Allah.

Kalau kita mulai ragu sama Allah hingga memangkas doa kita karena takut sakit hati dan kecewa doanya tidak terwujud. Artinya kita hanya fokus sama kecewanya kita daripada kemampuan Maha Besar Allah yang mewujudkannya.

Nabi Zakaria tetap meminta meski secara media kondisinya sudah mustahil. Beliau tidak membiarkan dirinya terlarut dalam perasaan dan logika manusia yang membatasi doanya. Dan hasilnya Allah berikan Yahya, seorang putra persis seperti yang beliau minta dna beliau butuhkan untuk melanjutkan dakwahnya.

Ingatlah bahwa Allah menciptakan alam semesta dan isinya ini dengan detail yang luar biasa. Dari struktur atom sampai orbit planet. Apakah kamu berpikir Allah akan kesulitan mengabulkan doa tentang karirmu,pasanganmu, dan kesehatanmu? Justru dengan detail, kita sedang mengakui bahwa setiap aspek hidup kita butuh campur tangan-Nya.

Allah itu Maha Luas akan pemebrian-Nya, maka mintalah dengan jelas. Sebab bagi Allah tidak ada permintaan yang tidak bisa dikabulkan olehnya meskipun terlihat mustahil bagi manusia. Melainkan Allah akan kabulkan pada sesuatu dan waktu yang tepat.

 

Referensi by Qur’anic Review

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *