Kisah Rasulullah dalam Menjaga Kondisi Hati Istri

Kisah Rasulullah dalam menjaga kondisi hati istri – Rasulullah adalah teladan bagi umat islam dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Rasulullah senantiasa berlaku dengan adil dan bersabar dalam menghadapi sikap istri-istrinya.

Selain terkenal dengan akhlak yang mulia dan kesabarannya, beliau adalah panutan seorang suami yang selalu menjaga psikolog istri-istrinya. Dalam urusan menjaga psikologis, ibunda Aisyah pernah menceritakan kisah pada musim haji, tepatnya pada malam Mudzalifah.

Saat itu, Saudah istri kedua Rasulullah setelah wafatnya ibunda Khadijah, telah meminta izin kepada Rasulullah untuk pergi terlebih dahulu. Ketika itu manusia sedang berkumpul disana untuk mabit di antara Arafah dan Mina hingga pagi hari. Sementara Saudah adalah seorang janda bertubuh gemuk, lambat jalannya, sulit gerakannya, dan sering lelah ketika hendak naik turun perbukitan.

Mendengar penuturan salah satu istrinya yang bernama Saudah tersebut dan melihat kondisi yang dialaminya, Rasulullah kemudian memberikan izin kepda Saudah untuk berangkat setelah pertengahan malam dari Muzdalifah, sehingga ia tidak lelah karena berdesak-desakan dengan manusia dan bisa pergi dengan rehat dan santai. (HR.Al-Bukhari No.1681)

Ini menjadi bukti bahwa Rasulullah sangat menjaga psikolog istrinya yakni Saudah. Contoh lain dari penjagaan Rasulullah terhadap perasaan dan psikolog istrinya ialah ketika beliau dan para sahabat sedang melakukan ibadah haji. Namun  ditengah aktivitas tersebut ibunda Aisyah tiba-tiba haid. Hal ini membuatlnya bersedih dan menangis. Ketika Rasulullah mengetahui istrinya menangis, beliau bertanya. “Apa yang membuatmu menangis? mengapa kamu menangis seperti ini?”

Beliau seorang Nabi sekaligus pemimpun umat bertanya langsung kepada istrinya tentang sebabnya, tanpa menunda-nunda. Padahal saat itu beliau diantara para sahabat dalam perjalanan. Tidak sebagaimanya para suami yang mendapati istrinya menangis ditengah kerumunan umum, tetapi ia masih diam saja dan tidak menoleh sedikitpun karena malu terhadap istrinya.

Kemudian ibunda Aisyah menjelaskan bahwa ia menangis karena mendengar Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan Tamattu lalu Ihram untuk haji dan umrah sebelum Haji, sementara ia tidak bisa melakukan umrah.

Beliau kemudian bertanya lagi,

“Ada apa denganmu?”

Aisyah pun menjawab,

“Aku sedang haid, orang-orang sudah bertahallul sedangkan aku belum bertahallul dan juga belum tahawaf di Baitullah, dan orang-orangpun sekarang berangkat memulai haji.”

Mendengar penuturan istrinya tercinta, beliau kemudian menghiburnya,

“Itu adalah ketetapan Allah terhadap kaum wanita. Mandilah lalu berihramlah untuk haji!”

Aisyah kemudian melaksanakannya, lalu dia melakukan wukuf dan berhenti ditempat lain yang telah ditentukan. Setelah suci, Aisyah melakukan thawaf di Ka’bah dan sa’i antara Shafa dan Marwa.

Kemudian beliau bersabda, “Kamu telah bertahallul dari hajimu dan umrahmu bersama-sama.” (HR.Muslim No. 1213)

MasyaAllah! alangkah agungnya perhatian beliau dalam menjaga perasaan dan psikolog istri-istrinya. Beliau berusaha menghibur hati mereka yang sedih dan memberikan solusi jitu dengan penuh kesabaran. Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk senantiasa berlaku baik kepada istri maupun suami tercinta. Semoga artikel ini bermanfaat.

 

Referensi : Buku “Keluarga Bervisi Surga karya Ibnu Abdil Bari” 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *