Menjaga Diri Dari Sifat Syaithan

Menjaga diri dari sifat syaithan – Syaithan adalah musuh nyata bagi umat islam. Syaithan akan terus menggoda manusia sampai dengan hari akhir. Hal ini juga berlaku bagi manusia beriman, syaithan akan berusaha keras sampai iman dalam hatinya runtuh. Dari Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa, “Tidak ada jalan yang lebih dekat kepada Allah SWT kecuali dengan ‘ubudiyah’ yakni ibadah kepada Allah SWT. Pondasinya adalah cinta, kerendahan, serta ketundukan yang sempurna.” Inilah mengapa umat islam dianjurkan untuk senantiasa menjaga ibadahnya sebagai benteng bagi dirinya dari syaithan yang menggodanya.

1) Cinta & Tunduk kepada Allah SWT lahir karena melihat nikmat

Pernah ga, ketika kita menaruh harapan besar kepada sesama manusia seringnya kecewa yang kita dapat? Atau ketika kita berbuat baik kepada sesama manusia terkadang kebaikan tersebut dibalas dengan keburukan hingga membuat kita kecewa? Inilah hakikat cinta kepada manusia, kalau cinta sesama manusia mungkin ada opsi dibalas dengan kebaikan atau sebaliknya. Tapi tidak dengan Allah SWT.

Begitu kita memutuskan untuk tidak mencintai, merendahkan, dan tidak tunduk kepada Allah SWT, maka siap-siaplah semua akan berantakan. Sebaliknya, jika keputusan kita adalah menjaga kecintaan serta ketundukan kita kepada Allah SWT, maka selamatlah kita di dunia dan akhirat. Sebagaimana Ibnul Qayyim menjelaskan, cara mendapatkan rasa cinta & kerendahan yang sempurna yaitu dengan menyaksikan, merasakan, dan membicarakan kenikmatan yang Allah SWT berikan.

2) Cinta & Tunduk kepada Allah SWT lahir karena melihat aib sendiri

Dari Ibnul Qayyim melanjutkan, “semakin kita diberikan taufiq untuk pandai melihat & menyaksikan kenikmatan-kenikmatan Allah SWT kepada kita, maka semakin besar cinta kepada Allah SWT. Kita bisa melihat betapa diri ini kecil, banyak salah, dan penuh aib. Maka akan lahir kerendahan dan ketundukan kepada Allah SWT yang sempurna”.

Agar perjalanan kita sampai kepada Allah SWT dan mendapatkan keridhoan-Nya serta Allah mencintai diri kita, maka harus ada bekal yang disiapkan. Bekal tersebut adalah dengan senantiasa menikmatan kenikmatan dari-Nya sehingga lahir rasa cinta kepada Allah SWT. Diwaktu yang sama, pelajari dan akui aib diri sendiri, sehingga lahirlah sifat rendah & tunduk kepada Allah SWT, karena merasa kita tidak punya posisi besar di dunia ini melainkan manusia yang menjalankan amanah dari Allah SWT.

Berkeras hati dalam hidup biasanya muncul saat kita merasa benar dari semua sisi. Namun, ketika kita menyadari aib diri sendiri, kita akan cenderung merendah, menerima dan tunduk kepada Allah SWT. Jika kita diberi ujian lantas kita tidak menerimanya bahkan menyalahkan takdir itu pertanda hati sedang bermasalah. Itulah kenapa sayyidul istighfar menjadi benteng perlinfungan dari sifat syaithan. Sayyidul istighfar memiliki kedudukan tertinggi dalam istighfar karena di dalamnya ada doa yang disebeutkan sebagai berikut : “Ya Allah SWT, aku mengakui segala kenikmatan-kenikmatan yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku.” (HR. Bukhari, no.6306)

Syukur dan fokus diri adalah kunci kesuksesan !

Ketika kita hanya fokus mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain, bukankah aib kita bisa jadi lebih banyak daripada kesalahan dia? Itu artinya tidak perlu mengurusi kekurangan orang lain! Boleh jadi yang kita anggap kekurangan, Allah SWT lebihkan dirinya dengan kemampuan lainnya yang tidak kita sadari dan mungkin lebih baik dari kita. Sadari kekurangan diri sendiri, lalu jadikan ini sebagai jalan untuk merendahkan hati kepada Allah SWT. Mulai syukurilah nikmat-nikmat-Nya dan sadari bahwa diri ini juga banyak dosa. Semoga artikel ini bermanfaat.

Referensi : Resume kajian wanita No.62 oleh Ustadz Muhammad Nurul Dzikri

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *