Don’t Judge Be Cover – Seringkali kita menilai seseorang hanya dari penampilan luar saja hingga merubah sikap kita terhadapnya. Padahal tidak semua yang ia lihat benar adanya, boleh jadi akan berbeda dengan apa yang di pikirkan selama ini. Bahkan penilaian tersebut terkadang memanipulatif diri kita dalam bersikap ke orang lain hingga menghilangkan rasa empati pada diri kita. Kebanyakan kita hanya melihat dari satu sudut pandang saja, seperti bagaimana ia berinteraksi, status sosialnya, kekayaaannya, dan penampilannya saja tanpa mengenal kepribadian orang tersebut. Bahkan orang yang terlihat bijak pun ada keburukan dalam dirinya, tapi kita terlalu fokus untuk menilai seseorang hanya dari penampilan luar saja.
Hal ini juga pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Pada suatu hari di Mekah datang seorang yang buta yakni Abdullah bin Ummu Maktum kepada Rasulullah SAW. Ketika itu beliau sedang berdakwah kepada orang-orang bangsawan negeri Mekkah/Quraisy untuk masuk agama islam. Kemudian anak Umi Maktum berkata, “Ya Rasulullah, bacakan Al-Qur’an padaku, ajarkanlah kepadaku apa yang diajarkan Allah SWT”. Berulang kali anak Umi Maktum mengatakan hal tersebut, sedangkan ia tidak tahu bahwa Nabi Muhammad SAW sedang berdakwah kepada para bangsawan. Hal tersebut, membuat Nabi Muhammad SAW jengkel dan bermuka masam bahkan berpaling dari Abdullah bin Ummu Maktum. Dari kisah ini turunlah surah Abasa ayat 80.
Dari kisah tersebut, mengajarkan kita untuk tidak cepat menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Bahkan mungkin sebagian kita sering mencibir seseorang karena penampilan dan status sosialnya saja hingga menghilangkan nilai pada diri kita. Bisa jadi orang yang kita cibir selama ini memiliki nilai berharga pada dirinya yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Karena sejatinya nilai tersebut hanya bisa disadari oleh orang yang memiliki sudut pandang lain dan empati yang tinggi terhadap orang disekitarnya. Dan sebaik-baiknya penilai hanya Allah Azza Wazala yang bisa melihatnya.
Dalam surat Al-Hujurat ayat 49, Allah memberikan peringatan kepada kita untuk tidak merendahkan kaum yang lain karena boleh jadi yang dihinakan lebih baik dari pada yang menghinakan. Selain itu dalam surat tersebut, jelas bahwa Allah SWT menciptakan manusia berbeda-beda, namun perbedaan tersebut bukanlah penentu keunggulan dan kemuliaan seseorang atau suatu kaum dalam pandangan Allah SWT, melainkan ketakwaannya.
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat : 11)
Perbedaan bukan untuk saling menjatuhkan dan menghinakan. Perbedaan ditujukan agar manusia dapat saling mempelajari dan membantu. Apalagi untuk masalah perbedaan penampilan semata. Kita tidak akan dapat melihat spiritual seseorang hanya dari penampilannya saja, sebagi-baiknya penilai hanya Allah ta’ala. Semoga artikel ini bermanfaat.