Tadabbur Surat Al-Ashr

Tadabbur Surat Al-Ashr – Surat Al-Ashr termasuk golongan surat-surat Makkiyyah karena hanya terdiri dari 3 ayat saja. Surat Al-Ashr sangat mudah di hapal karena suratnya pendek. Meskipun begitu, surat ini mengandung makna yang sangat mendalam.

Setiap ayat dalam surat Al-Ashar mengandung banyak makna dan nasihat bagi umat manusia. Sebagaimana Imam Syafi’ pernah berkata bahwa, “Seandainya Allah tidak menurunkan surah dalam Al-Qur`an, kecuali Al-‘Ashr, maka niscaya itu sudah cukup.” Apa yang dikatakan Imam Syafi’i ini tidak berlebihan sebab kandungan surah ini begitu agung. Berikut isi kandungan surat Al-Ashr yang bisa kita tadabburi.

Tadabbur ayat 1 :

وَالْعَصْرِ

“Demi masa.”

Dalam ayat ini Allah Ta’ala bersumpah dengan masa, yakni waktu-waktu yang kita lalui dalam hidup, zaman demi zaman, masa demi masa. Dimana setiap masa yang di lewati manusia ada kejadian dan pengalaman yang menjadi tanda kekuasaan Allah Ta’ala yang mutlak, hikmah-Nya yang tinggi dan Ilmu-Nya yang sangat luas. Hal ini disebutkan juga dalam surat Fussilat ayat 37.

Lalu Al ‘ashr juga bermakna waktu atau umur. Karena umur inilah nikmat besar yang diberikan kepada manusia agar digunakan oleh mereka untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Kata Ashr bisa juga diartikan waktu ‘Ashr, atau waktu petang yakni waktu mulai pergantian siang dan malam.

Pada ayat ini, memberikan peringatan “Demi Ashar”. Bukan ‘Ashar yang salah, namun kesalahannya adalah ketika manusia mempergunakan waktu itu dengan salah dan menyia-nyiakannya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat sebelum ajal datang.

Tadabbur Ayat 2 :

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.”

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengungkapkan bahwa manusia sebagai makhluk Allah secara keseluruhan berada dalam kerugian. Lafazh al-insan pada ayat di atas secara kaidah tata bahasa Arab mencakup keumuman manusia tanpa terkecuali. Allah Ta’ala tidak memandang agama, jenis kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah Ta’ala menyebutkan bahwa semua manusia itu dalam keadaan celaka kecuali yang memiliki empat sifat yang disebut pada ayat selanjutnya.

Tadabbur Ayat 3 :

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan supaya manusia tidak merugi hidupnya, ia harus memenuhi empat kriteria yaitu dengan :

(1) Iman. Yaitu memiliki keyakinan kokoh dan berlandaskan dengan ilmu dapat melindungi diri dari perkara yang Allah Ta’ala benci. Karena menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Dengan ilmu yang berlandaskan Al-Quran dan hadist menjadi petunjuk dalam mengarahkan hidup manusia menjadi lebih baik.

(2) Amal shaleh.Yang dimaksud di sini adalah melakukan seluruh kebaikan yang lahir maupun yang batin, yang berkaitan dengan hak Allah Ta’ala maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunnah. Allah menjamin pahala yang besar bagi orang-orang yang beramal shaleh dan berbuat kebaikan.

(3) Saling menasehati dalam kebenaran. Yaitu saling menasehati agar menetapi ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjauhi segala larangan serta apa yang diharamkan oleh-Nya. Manusia tidak cukup berbuat baik hanya untuk diri sendiri. Ia haruskan menularkan kebaikannya untuk orang lain dengan mengingatkan dalam kebenaran. Dengan begitu akan menjadi pahala jariyah bagi pemiliknya dari manfaat yang ia tebarkan.

(4) Saling menasehati dalam kesabaran. Yaitu sabar dalam berdakwah, sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, sabar dalam menghadapi dorongan hawa nafsu, sabar dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, sabar dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat, dan sabar dalam perjuangan. Dengan begitu, pentingnya berjamaan dengan orang-orang baik yang saling mengingatkan.

 

Leave a Comment