Ketenangan dalam pernikahan – Setiap pasangan pasti mendambakan rumah tangga yang harmonis dan tenang. Karena ketenangan dalam rumah tangga tidak hanya tercipta dari rumah besar saja tapi dari jiwa yang bersandar kepada Rabbnya. Karena Allah sendiri berfirman bahwa tujuan diciptakannya pasangan untuk mendapatkan ketenangan bukan kesempurnaan.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kamu pasangan-pasangan daripada jenis kamu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan darinya…” (QS.Ar-Rum:21)
Ketenangan itu datang ketika kita berhenti berharap pada pasangan yang sempurna
Terkadang rumah tangga yang sedang menghadapi ketegangan bukan karena kurangnya kasih sayang, tetapi karena terlalu banyak ekspektasi. Sedangkan Nabi SAW berpesan: “Janganlah seorang suami membenci istrinya; jika dia tidak menyukai satu sifatnya, pasti ada sifat lain yang dia ridhai.” – Hadist Sahih Muslim. Ingatlah menikah itu bukan menyatukan dua insan yang sempurna, tapi menyatukan dua insan yang sama-sama saling menyempurnakan. Terimalah pasanganmu sebagai manusia bukan malaikat.
Ketenangan datang bila mendahulukan Allah sebelum pasangan
Kunci utama ketenangan dalam pernikahan adalah ketika penghuni rumahnya dipenuhi dengan cinta kepada Allah, mendahulukan Allah sebelum pasangannya. Sebagaimana Nabi SAW bersabda : “Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu sholat, kemudian mengejutkan isterinya…” (Riwayat Abu Dawud Sahih)
“Dan juga seorang isteri yang menjaga sholat lima waktu, berpuasa, menjaga kehormatan dan mentaati suaminya… akan masuk surga melalui pintu mana saja yang dia suka” – (Hadis Sahih Ibn Hibban)
Ketenangan datang ketika kita belajar memaafkan
Dalam pernikahan pasti pernah dihadapkan dengan sebuah masalah. Setiap pasangan pasti ada luka, salah faham, dan marah. Tapi pernikahan yang tenang dapat tercipta dengan saling memaafkan antar pasangan dan saling menurunkan ego ketika ada masalah. Karena orang yang kuat yang menang bergulat. Tapi orang yang mampu menahan amarahnya dan mampu memaafkan orang yang pernah menyakitinya. Ketenangan muncul bila kita memilih untuk bersikap lembut, walaupun kita mampu keras.
Ketenangan datang apabila suami menjadi qawwam dan istri menjadi penyejuk hati
Ketenangan dalam pernikahan dapat diraih baik suami dan istri memahami perannya masing-masing dan saling bekerja sama. Suami menjadi qowwam dalam keluarga dan istri sebagai penyejuk hati. Sebagaimana Rasulullah SAW adalah sosok lelaki yang menjadi teladan umat dan memiliki sifat lembut, namun paling tegas dalam memimpin. Baginda bersabda : “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (Riwayat: At-Tirmizi)
Beliau menjadi qowwam bagi istrinya yang mampu menjaga marwahnya, memelihara pergaulannya, menjadi benteng istri ketika disakiti dan tidak meninggikan suaranya. Rasulullah SAW memberikan rasa aman, ketenangan bagi istrinya dengan amanah, adil, dan tidak mengabaikan haknya.
Selain itu, seperti ibunda Khadijah sosok istri teladan sepanjang masa yang mendampingi Rasulullah SAW dalam suka dan duka. Ibunda Khadijah bukan wanita biasa beliau bisa menenangkan Rasulullah SAW saat cemas, percaya sepenuhnya ketika semua orang meragui suaminya, dan tidak pernah meninggalkan Rasulullah SAW dalam susah. Istri yang menenangkan akan membangun kepercayaan diri suaminya menjadi kuat.
Ketenangan datang bila kita saling menjadi “rumah” pada satu sama lain
Pernikahan menjadi tenang bila rumah tangga itu mejadi tempat pulang bukan tempat lari. Sebagaimana Nabi SAW bersabda: “Dia yang menenangkan aku ketika orang lain menolak aku.” (Riwayat Ahmad, sahih). Tenang itu tercipta ketika dua pasangan mau saling meneriima satu sama lain dan saling menjadi rumah keduanya, ia bermula pada hati setiap individu. Karena janji Allah SWT pada surat Ar-Rad:28 “Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.”
Ketenangan dalam pernikahan bukan hadir karena keduanya sempurna, tetapi bila dua jiwa memilih untuk saling kembali pada Allah SWT setiap kali dunia mencoba membutuhkan mereka. Ia bukan tentang mencari pasangan yang “betul” tetapi tentang menjadi manusia yang Allah tenangkan hatinya, lalu ketenangan itu mengalir kepada pasangannya.
Pernikahan yang tenang bukan dibina hanya dengan kata manis,hadiah mahal, atau momen romantik saja, tetapi dengan kesabaran yang tidak terlihat, doa yang tidak didengar orang lain, dan pengorbanan yang tidak pernah diceritakan. Pada akhirnya pernikahan yang tenang dibangun dari dua insan yang memilih untuk berjuang bersama, bukan berjuang melawan satu sama lain, tapi karena mereka tahu Allah SWT sedang memperhatikan setiap usaha kecil mereka.
