Bedanya Mindset Laki-Laki sama Perempuan Dalam Berelasi

Bedanya mindset laki-laki sama perempuan dalam berelasi- Rumah tangga yang sehat itu lahir dari keduanya, bukan salah satunya saja. Karena masalah mulai muncul saat keduanya tidak saling bertemu dalam pikiran yang sama. Laki-laki tanpa provider mindset cenderung lebih pasif, defensif, dan menghindar.

Sedangkan perempuan tanpa self worth cenderung mengejar, menoleransi, dan mengorbankan diri. Hasilnya saat berelasi dengan pasangan saling timpang dan melelahan.

Sedangkan relasi yang sehat dibangun dari hubungan yang stabil kombinasi antara tanggung jawab dan harga diri. Perempuan yang memiliki self worth tidak akan memaksa laki-lakinya berubah untuk dirinya.

Karena ia tidak bertahan di tempat yang tidak memberinya rasa aman. Dan laki-laki dengan jiwa provider mindset, tidak akan merasa terancam oleh perempuan yang berdaya.

Karena mereka paham bahwa hubungan dibangun atas dasar kepercayaan dan tanggung jawab bersama bukan salah-satunya. Hubungan sehat lahir dari rasa aman untuk terus bertumbuh tanpa harus kehilangan diri sendiri. Tapi masalahnya kebanyakan dari kita tanpa disadari menjalin hubungan tanpa ada fondasi.

Bukan karena tidak mau, tapi karena pola lama belum pernah diberi ruang untuk dipahami. Sehingga seringnya kita menggunakan pola berulang dan terjebak dalam hubungan yang menyakitkan.

Kalau kamu sering narik orang yang salah, hingga kamu ragu menilai diri sendiri. Mungkin ada yang perlu dibenahi bukan orangnya dulu, tapi fondasi emosimu.

Pulih untuk mencintai adalah ruang aman bersama antara kamu dan pasangan. Tapi bukan berarti hanya mengandalkan pasangan untuk memulihkan lukamu. Tapi untuk saling melengkapi dan memulihkan bersamanya. Itulah mengapa mindset laki-laki dan perempuan beda dalam bersikap.

Adakalanya laki-laki terlihat cuek namun isi pikirannya menumpuk bahkan mereka cenderung sedikit bercerita karena harga diri dan tanggung jawabnya. Sedangkan perempuan adakalanya ia sering meluapkan emosi bukan karena tidak bisa mencari solusi tapi hanya ingin di dengar dan di pahami.

Inilah yang disebut ego sentrisme terkadang kita harus menaruh harapan kita pada zat yang Maha Kuasa. Dengan menurunkan ego dan berprasangka baik atas kondisi yang ada. Salah satu pemulihannya adalah dengan memberikan ruang berdoa untuk selaras membangun kehidupan rumah tangga yang di ridhoi Allah ta’ala. Semoga artikel ini bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *