Antara Usaha dan Parah – Terkadang terlintas dalam pikiran kenapa kita harus berusaha padahal Allah sudah menetapkan takdir untuk kita? Bahkan hal ini pernah ditanyakan oleh para sahabat kepada Rasulullah SAW : “Seorang sahabat bertanya: “Apakah perilaku dan usaha kami sekarang ini karena sudah suratan takdir sejak dahulu, karena kami mengamalkan ajaran yang dibawa Nabi?”. Jawaban Rasulullah SAW mengejutkan : “itu merupakan suratan takdir yang telah ditetapkan” (HR. Muslim no 4791)
Takdir bukan berarti kita tidak punya pilihan. Justru Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk memilih. Dalam psikologi modern terdapat konsep “Locus of Control”, yaitu keyakinan seseorang tentang seberapa besar kontrol yang mereka miliki atas hidup mereka.
Berdasarkan studi pada Journal of Muslim Mental Health (2006) menemukan bahwa Muslim memahami takdir dengan benar (kombinasi usaha+tawakal) memiliki resiliensi 47% lebih tinggi dibanding yang fatalistik. Sedangkan islam mengajarkan keseimbangan antara percaya takdir diiringi usaha yang maksimal berupa aktualisasi potensi.
Jika kita merasa bahwa takdir tidak adil, maka coba renungi makna takdir sebagai berikut :
1) Takdir adalah ujian keimanan bukan hukuman
Tidak semua hal yang terlihat sulit dalam hidup adalah takdir buruk kita. Karena sejatinya dunia ini adalah tempatnya ujian. Allah SWT berfirman dalam QS.Al-Ankabut 2 dan sabda Rasulullah SAW sebagai berikut :
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (QS.Al-Ankabut : 2)
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang mukmin ditimpa kesusahan, kelelahan, penyakit, dan kesedihan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah SWT menghapus kesalahannya dengan itu.” (HR.Bukhari No.5641, Muslim No. 2573)
2) Kegagalan bukan akhir cerita
Penelitian Carol Dweck (Standford University) tentang “Growth Mindset” menemukan: orang yang melihat kegagalan sebagai sebuah proses pembelajaran (bukan takdir buruk) tiga kali lebih sukses dalam jangka panjang. Bahkan terkait takdir sudah Allah SWT sebutkan dalam ayat berikut :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” (QS.Al-Baqarah: 214)
3) Kita tidak sendirian
Dalam menjalani takdir kehidupan, kita tidak sendirian menjalaninya. Melainkan setiap orang pernah mengalami tekanan dan kesulitan dalam hidupnya. Namun yang membedakan adalah bagaimana kita meresponnya. Bagaimana kita menjalankan hidup dengan takdir dan menerimanya.
Semua membutuhkan proses mulai dari fase berusaha, berdoa, pasrah, hingga mulai menerima (ridho) akan ketetapannya. Itulah mengapa setiap manusia akan diuji bersama dengan takdirnya agar manusia sadar dan mau berubah. Kuncinya terletak pada pemahaman bahwa takdir adalah partner sekaligus bagian dari perjalanan hidup kita, bukan musuh kita!
Untuk yang sedang berjuang!
Jika hari ini terasa lelah, ingatlah bahwa takdir bukan alasan untuk menyerah tapi takdir adalah bagian dari proses yang memberikan makna dalam hidupmu. Ketika kamu berusaha menjalani takdir dan menerimanya, maka semuanya akan tercatat meskipun hasilnya belum terlihat.
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Keadaan seorang mukmin menakjubkan. Semua keadaannya baik dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika dia mendapat kesenangan, dia bersyukur. Itu baik baginya. Jika dia mendapatkan kesusahan, dia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim No.2999)
Takdir itu bukan penjara melainkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Ketika kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh namun hasil belum terlihat, percayalah usahamu tidak sia-sia. Allah SWT sudah mencatatnya sebagai amal kebaikan untuk dirimu terlebih kamu sudah berdoa dengan khusyu, pasrahkan semuanya dan ikhlas menerima takdir-Nya.
Ketika kamu yakin dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya, maka percayalah akan ada keajaiban dalam hidupmu dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan percayalah sebaik-baiknya pengatur dunia hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Semoga artikel ini bermanfaat
